Tidak seperti daerah lainnya, kampung saya termasuk kampung yang kurang beruntung. Mengapa? Dengan komposisi musim kemarau sangat panjang sekitar 7 bulan, pertanian di kampung saya bisa dikatakan tidak ada. Apalagi curah hujan yang ditunggu hanya berlangsung 2-3 bulan saja.
Kontan, warga hanya bisa menanam jagung sekali dalam setahun. Namun
meski hanya sekali panen, warga – termasuk saya – sangat menikmatinya, sebab kwalitas jagung yang dipanen, sangat istimewa dengan rasa manis khas jagung Madura, yang tak jarang membuat saya dan beberapa saudara yang kebetulan nyantri (belajar di pesantren) diluar kota, ingin pulang untuk sekedar menikmati jagung bakar hasil panen.
Tak hanya curah hujan yang jarang menyapa kampung jika musim kemarau. Tapi, sumber air di sumur-sumur warga juga akan ikut surut. Sehingga pada puncak musim kemarau warga terpaksa harus menempuh jarak 2 km dengan berjalan kaki, sekedar untuk bisa mandi, mencuci baju dsb, di aliran sungai terdekat, yang airnya sudah berwarna kecokelatan karena banyaknya orang yang mempergunakannya.
Untuk bisa minum air bersih pakde saya (KH. Turmudzi) biasa menelepon sopir mobil tangki pengangkut air bersih 3 hari sekali, yang kemudian airnya disimpan di penampungan air, berukuran 3 meter kedalam tanah dan tinggi ½ meter diatas permukaan tanah. Kemudian air tersebut beliau jual eceran pada warga, karena untuk bisa membeli air 1 mobil tangki bagi setiap keluarga jelas sangat memberatkan, apalagi tarif air yang cenderung naik 3 kali lipat di musim kemarau.
Dengan kondisi warga yang mayoritas kerja serabutan,alias tidak punya pekerjaan tetap, bila musim kemarau tiba, otomatis sangat menyulitkan mereka karena beban belanja keluarga secara tidak langsung bertambah. Untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan, ditambah harus beli air bersih untuk minum. Jadi, bagi kepala keluarga yang memang tidak punya uang untuk membelinya mereka memilih mengambilnya dari sumber mata air yang jaraknya lebih 3 km dari kampung kami. Biasanya mereka memikul air tersebut dalam blek bermuatan 25 kg, tidak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, bahkan para remaja dan gadis desa juga berlomba seakan tidak mau kalah.
Sesekali saya melihat mereka berhenti di bawah pohon rindang, untuk melepas lelah sambil bercanda seperlunya, itung-itung buat berlindung sebentar dari terik matahari, yang panasnya bisa mencapai 32 oC.
Bagi masyarakat pedesaan saling gojlok antar teman adalah siasat jitu untuk sejenak melupakan beratnya hidup. Merekalah sebenarnya para pejuang-pejuang era modern yang tidak kenal lelah, tagguh dan tidak pernah mengeluh serta terus berjalan meski pahitnya hidup harus mereka jalani; ini adalah sekian sifat yang tidak ditemukan pada masyarakat perkotaan, yang notabene tinggal di balik bangunan megah dan kokoh, namun berjiwa rapuh.
Warga pedesaan adalah pekerja keras bukan pemalas. Tapi ingat, mereka bukan budak keserakahan. Yang mereka inginkan sederhana saja (anak-anak bisa sekolah dan dapur tetap mengepul). Jelas dan tidak berbelit-belit.Saya yakin kok, kita masih punya pemimpin yang loyal dan peduli dengan nasib rakyatnya.
Kisah ini saya maksudkan, supaya pembaca ikut prihatin dengan realitas kemanusiaan, yang terkadang tak terjamah, terabaikan, atau lebih pasnya, lolos dari sorotan media.
10 april 2008 M
Tagamuk Khomis, New Cairo
Tak hanya curah hujan yang jarang menyapa kampung jika musim kemarau. Tapi, sumber air di sumur-sumur warga juga akan ikut surut. Sehingga pada puncak musim kemarau warga terpaksa harus menempuh jarak 2 km dengan berjalan kaki, sekedar untuk bisa mandi, mencuci baju dsb, di aliran sungai terdekat, yang airnya sudah berwarna kecokelatan karena banyaknya orang yang mempergunakannya.
Untuk bisa minum air bersih pakde saya (KH. Turmudzi) biasa menelepon sopir mobil tangki pengangkut air bersih 3 hari sekali, yang kemudian airnya disimpan di penampungan air, berukuran 3 meter kedalam tanah dan tinggi ½ meter diatas permukaan tanah. Kemudian air tersebut beliau jual eceran pada warga, karena untuk bisa membeli air 1 mobil tangki bagi setiap keluarga jelas sangat memberatkan, apalagi tarif air yang cenderung naik 3 kali lipat di musim kemarau.
Dengan kondisi warga yang mayoritas kerja serabutan,alias tidak punya pekerjaan tetap, bila musim kemarau tiba, otomatis sangat menyulitkan mereka karena beban belanja keluarga secara tidak langsung bertambah. Untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan, ditambah harus beli air bersih untuk minum. Jadi, bagi kepala keluarga yang memang tidak punya uang untuk membelinya mereka memilih mengambilnya dari sumber mata air yang jaraknya lebih 3 km dari kampung kami. Biasanya mereka memikul air tersebut dalam blek bermuatan 25 kg, tidak hanya bapak-bapak dan ibu-ibu, bahkan para remaja dan gadis desa juga berlomba seakan tidak mau kalah.
Sesekali saya melihat mereka berhenti di bawah pohon rindang, untuk melepas lelah sambil bercanda seperlunya, itung-itung buat berlindung sebentar dari terik matahari, yang panasnya bisa mencapai 32 oC.
Bagi masyarakat pedesaan saling gojlok antar teman adalah siasat jitu untuk sejenak melupakan beratnya hidup. Merekalah sebenarnya para pejuang-pejuang era modern yang tidak kenal lelah, tagguh dan tidak pernah mengeluh serta terus berjalan meski pahitnya hidup harus mereka jalani; ini adalah sekian sifat yang tidak ditemukan pada masyarakat perkotaan, yang notabene tinggal di balik bangunan megah dan kokoh, namun berjiwa rapuh.
Warga pedesaan adalah pekerja keras bukan pemalas. Tapi ingat, mereka bukan budak keserakahan. Yang mereka inginkan sederhana saja (anak-anak bisa sekolah dan dapur tetap mengepul). Jelas dan tidak berbelit-belit.Saya yakin kok, kita masih punya pemimpin yang loyal dan peduli dengan nasib rakyatnya.
Kisah ini saya maksudkan, supaya pembaca ikut prihatin dengan realitas kemanusiaan, yang terkadang tak terjamah, terabaikan, atau lebih pasnya, lolos dari sorotan media.
10 april 2008 M
Tagamuk Khomis, New Cairo
Tags :
Potret
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments