Dalam banyak ayat, Al-Qur’an selalu menyitir akan pentingnya “proses”, atau lebih kita kenal dengan “hukum alam” dalam mewujudkan impian dan tujuan, sebagaimana termaktub dalam surat Al-A’raf 54, surat Fusshilat 9-11 dll. Dimana Allah menciptakan Alam ini dalam waktu 6 hari, dan menyempurnakan isinya dalam waktu 4 hari. Padahal Allah mampu menciptakannya dalam sekejap, tapi Dia (dengan segala keadilanNya) ingin memberi kita pelajaran tentang pentingnya sebuah proses.
Demikian pula dalam penciptaan Adam, mula-mula diciptakan dari tanah (turaab) yang dicampur air (ma’) menjadi lumpur, kemudian menghitam (hama’) dan mengeras (masnuun) tanpa dibakar, dan terakhir mengering (sholsol) saat itulah ditiup ruh dalam diri Adam.
Namun saat ini ayat-ayat tersebut seakan hanya menjadi hiasan saja tanpa ada yang meyadari perannya. Ayat yang diturunkan sebagai aturan, pedoman, dan petunjuk untuk kita kaum muslimin. Malah diperaktekan mereka (non-Muslim) dengan sangat giat dan teliti sekali.
Sebut saja Jerman yang mengalami kekalahan telak dari Perancis dan Inggris pada perang dunia II, bisa bangkit kembali dalam waktu kurang dari 60 tahun. Bahkan ekonomi Jerman melebihi 2 negara yang pernah menaklukkannya.
Jepang yang pada Agustus tahun 1945 mengalami pengalaman pahit di dua kota terbesarnya Hirosima dan Nagasaki, akibat jatuhnya bom nuklir Amerika yang menewaskan hampir seluruh warga kota, hewan dan pepohonan. Bahkan seorang penulis menggambarkan bahwa saat itu "dunia seakan sudah kiamat dan tidak akan ada kebangkitan". Tapi, dengan semangat dan kesadaran akan pentingnya proses bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja, Jepang berhasil bagkit. Bahkan Jepang berhasil memposisikan diri masuk dalam deretan negara-negara terkaya di dunia dengan devisa 27.000 dolar dalam setahun bagi tiap warganya.
Sementara kita umat islam masih saja rela tenggelam ria dalam gelapnya aturan penjajah, seakan tidak pernah mendapatkan pencerahan Al-Qur’an dan tidak pernah sadar bahwa kita pernah mempunyai catatan peradaban yang mendunia dari semua sisi; politik, ekonomi, militer, pendidikan dll.
Sampai kapan kita akan menangisi kekalahan dan belajar dari pengalaman masa lalu?! Saya teringat salah satu bait syair Kahlil Gibran bahwa ; manusia ada dua, pertama tidur dibawah sinar terang, kedua bangun di dalam kegelapan.
Yang pertama tepat sekali menggambarkan umat islam yang tidak sadar akan pencerahan Al-Qur’an, dan yang kedua adalah non-Muslim yang selalu bekerja keras meski dalam gelap tanpa sinar apapun.
Kita secara tidak langsung mungkin berdecak kagum menyaksikan kesuksesan negara-negara tersebut di atas, padahal jauh sebelum mereka, kita (umat islam) pernah menorehkankannya dalam sejarah. Bila kegemilangan Amerika, Eropa dan negara-negara maju lainnya yang secara birokrasi, mereka independen dan bukan dipimpin seorang pemimpin saja, maka anda sepatutnya jauh lebih heran menyaksikan kegemilangan islam. Sebab di bawah satu pemimpin (khalifah), islam sanggup menyejahterakan wilayah kekuasaannya yang meluas sepanjang China di timur dan Andalusia di barat.
Namun sekali lagi kebangkitan, kesuksekan, dan kegemilangan tidak segampang membalikan telapak tangan, dan tidak semudah pesulap dengan sim-salabimnya. Tapi, semuanya butuh proses.Tak cukup bermodal menunggu dan menghayal, atau yang kerap kita (islam) ucapkan sebagai tindakan defensif “kita tunggu saja Imam Mahdi keluar”. Suatu ungkapan yang salah dalam memahami agama, ibarat pemalas yang sedang menghibur diri.
Saya teringat salah satu kitab turast yang menjadi diktat kami saat di pesantren, salah satu kitab yang menerangkan Ilmu Kalam, karya al Imam al Bajury yaitu "Tuhfatul Muriid Syarh Jauharat Tauhid"; dalam kitab tersebut diungkap, bahwa pernah ada dialog antara seorang murid dengan gurunya, murid tersebut menanyakan “apakah kekalahan Baghdad dari tentara Tar-tar adalah takdir Tuhan?” maka sang guru menjawab dengan lugasnya “ia”. Sebuah jawaban yang saya pikir terlalu pasrah, seakan kita sebagai manusia di hadapan takdir Tuhan, hanya sepotong kapas yang diterbangkan angin.
Alangkah baiknya, bila sang guru mejelaskan faktor kekalahan tersebut secara historis. Bukan malah berpangku tangan menyerahkannya pada takdir.
Di sayangkan memang, mengapa di era yang menuntut kegigihan, keuletan, dan ketelatenan dalam persaingan antara bangsa. Justru umat ini malah dicengkram kuat oleh ideologi Fatalisme (Jabariah).
Menyerah pada takdir sama saja menyalahkan takdir itu sendiri, bahkan dengan tidak disengaja ia telah menyalahi ratusan Ayat dalam Al-Qur’an, yang menyeru akan pentingnya kerja keras, anti-putus asa, selalu berpikir positif, dengan memupuk kwalitas mental serta mengembangkan SDM-SDA nya .
Tags :
Refleksi
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email
No Comments